Jejak Pemikiran Politik Syahrir

JEJAK REKAM PEMIKIRAN DAN PERJUANGAN SUTAN SYAHRIR
(Don) Elias S. Dabur
“Perubahan macam apapun bentuknya tetap harus punya akar-akar kontinuitas dengan masa silam; bahwa kita tidak bisa bergerak maju dengan mencampakan begitu saja prestasi-prestasi terbaik peradaban dan pemikiran terbaik bangsa manusia di masa silam.” (Erich fromm)
“Kita membutuhkan sejarah bukan terutama untuk memahami dan menerangkan masa lalu, melainkan membantu kita memahami diri sendiri dalam upaya membangun masa depan.” (Allan Bloom)

Prolog
Dua kutipan di atas dengan sengaja saya cantumkan karena hemat saya sangat membantu dan mendorong kita untuk tidak lalai menelusuri rekam jejak sejarah perjuangan, pemikiran para pendahulu kita terutama generasi-generasi pejuang, perintis kemerdekaan bangsa. Karena semua itu amatlah berguna bagi kita yang sedang mengarungi samudra kehidupan berbangsa-bernegara Indonesia hari ini supaya tidak kehilangan akar dalam upaya kita membangun Indonesia masa kini dan merumuskan peta jalan pembangunan Indonesia ke depan.
Dalam dua pertemuan sebelumnya, kita sudah mempelajari pidato Pancasila 1 Juninya Bung Karno dan memahami visi perjuangan, visi ekonomi-politiknya Bung Hatta. Hari ini, kita mencoba menyelami pemikiran salah satu tokoh besar perjuangan yang boleh dikatakan sepi dari amatan, perhatian kita secara umum jika dibandingkan dengan Bung Karno dan Bung Hatta, yakni si Bung Kecil, pemikir besar, Sutan Syahrir. Perkenalan tentang Syahrir pada sesi hari ini dibatasi pada masa perjuangan ke arah Indonesia merdeka. Kiprah, perjuangan dan pemikiran Syahrir periode revolusi nasional dan setelah kemerdekaan akan dibahas dalam sesi-sesi berikutnya.
Biografi Syahrir
Syahrir lahir dari pasangan Mohammad Rasad gelar Maharaja Soetan bin Soetan Leman gelar Soetan Palindih dan Puti Siti Rabiah yang berasal dari Koto Gadang, Agam. Ayahnya menjabat sebagai penasehat sultan Deli dan kepala jaksa (landraad) di Medan. Syahrir mengenyam sekolah dasar (ELS) dan sekolah menengah (MULO) terbaik di Medan, dan membetahkannya bergaul dengan berbagai buku-buku asing dan ratusan novel Belanda. Malamnya dia mengamen di Hotel de Boer, hotel khusus untuk tamu-tamu kulit putih.
Pada 1926, ia selesai dari MULO, masuk sekolah lanjutan atas (AMS) di Bandung, sekolah termahal di Hindia Belanda saat itu. Di sekolah itu, dia bergabung dalam Himpunan Teater Mahasiswa Indonesia (Batovis) sebagai sutradara, penulis skenario, dan juga aktor. Hasil mentas itu dia gunakan untuk membiayai sekolah yang ia dirikan, Tjahja Volksuniversiteit, Cahaya Universitas Rakyat.
Di kalangan siswa sekolah menengah (AMS) Bandung, Syahrir menjadi seorang bintang. Syahrir bukanlah tipe siswa yang hanya menyibukkan diri dengan buku-buku pelajaran dan pekerjaan rumah. Ia aktif dalam klub debat di sekolahnya. Syahrir juga berkecimpung dalam aksi pendidikan melek huruf secara gratis bagi anak-anak dari keluarga tak mampu dalam Tjahja Volksuniversiteit.
Aksi sosial Syahrir kemudian menjurus jadi politis. Ketika para pemuda masih terikat dalam perhimpunan-perhimpunan kedaerahan, pada 20 Februari 1927, Syahrir termasuk dalam sepuluh orang penggagas pendirian himpunan pemuda nasionalis, Jong Indonesie. Perhimpunan itu kemudian berubah nama jadi Pemuda Indonesia yang menjadi motor penyelenggaraan Kongres Pemuda Indonesia. Kongres monumental yang mencetuskan Sumpah Pemuda pada 1928.
Sebagai siswa sekolah menengah, Syahrir sudah dikenal oleh polisi Bandung sebagai pemimpin redaksi majalah himpunan pemuda nasionalis. Dalam kenangan seorang temannya di AMS, Syahrir kerap lari digebah polisi karena membandel membaca koran yang memuat berita pemberontakan PKI 1926; koran yang ditempel pada papan dan selalu dijaga polisi agar tak dibaca para pelajar sekolah.
Syahrir melanjutkan pendidikan ke negeri Belanda di Fakultas Hukum, Universitas Amsterdam, Leiden. Di sana, Syahrir mendalami sosialisme. Secara sungguh-sungguh ia berkutat dengan teori-teori sosialisme. Ia akrab dengan Salomon Tas, Ketua Klub Mahasiswa Sosial Demokrat, dan istrinya Maria Duchateau, yang kelak dinikahi Syahrir, meski sebentar.
Selain menceburkan diri dalam sosialisme, Syahrir juga aktif dalam Perhimpunan Indonesia (PI) yang ketika itu dipimpin oleh Mohammad Hatta. Di awal 1930, pemerintah Hindia Belanda kian bengis terhadap organisasi pergerakan nasional, dengan aksi razia dan memenjarakan pemimpin pergerakan di tanah air, yang berbuntut pembubaran Partai Nasional Indonesia (PNI) oleh aktivis PNI sendiri. Berita tersebut menimbulkan kekhawatiran di kalangan aktivis PI di Belanda. Mereka selalu menyerukan agar pergerakan jangan jadi melempem lantaran pemimpinnya dipenjarakan. Seruan itu mereka sampaikan lewat tulisan. Bersama Hatta, keduanya rajin menulis di Daulat Rakjat, majalah milik Pendidikan Nasional Indonesia, dan memisikan pendidikan rakyat harus menjadi tugas utama pemimpin politik. “Pertama-tama, marilah kita mendidik, yaitu memetakan jalan menuju kemerdekaan,” katanya.
Pengujung tahun 1931, Syahrir meninggalkan kampusnya untuk kembali ke tanah air dan terjun dalam pergerakan nasional. Syahrir segera bergabung dalam organisasi Pendidikan Nasional Indonesia (PNI Baru), yang pada Juni 1932 diketuainya. Pengalaman mencemplungkan diri dalam dunia proletar ia praktekkan di tanah air. Syahrir terjun dalam pergerakan buruh. Ia memuat banyak tulisannya tentang perburuhan dalam Daulat Rakyat. Ia juga kerap berbicara perihal pergerakan buruh dalam forum-forum politik. Mei 1933, Syahrir didaulat menjadi Ketua Kongres Kaum Buruh Indonesia.
Hatta kemudian kembali ke tanah air pada Agustus 1932, segera pula ia memimpin PNI Baru. Bersama Hatta, Syahrir mengemudikan PNI Baru sebagai organisasi pencetak kader-kader pergerakan. Berdasarkan analisis pemerintahan kolonial Belanda, gerakan politik Hatta dan Syahrir dalam PNI Baru justru lebih radikal tinimbang Soekarno dengan PNI-nya yang mengandalkan mobilisasi massa. PNI Baru, menurut polisi kolonial, cukup sebanding dengan organisasi Barat. Meski tanpa aksi massa dan agitasi; secara cerdas, lamban namun pasti, PNI Baru mendidik kader-kader pergerakan yang siap bergerak ke arah tujuan revolusionernya.Karena takut akan potensi revolusioner PNI Baru, pada Februari 1934, pemerintah kolonial Belanda menangkap, memenjarakan, kemudian membuang Syahrir, Hatta, dan beberapa pemimpin PNI Baru ke Boven Digul. Hampir setahun dalam kawasan malaria di Papua itu, Hatta dan Syahrir dipindahkan ke Banda Neira untuk menjalani masa pembuangan selama enam tahun.(http://id.wikipedia.org/wiki/Sutan_Syahrir ( diunduh 2 juli 2010, 16.27)
Beberapa Pokok Pemikiran Sutan Syahrir
Permenungan, sikap Sutan Syahrir ke arah Indonesia merdeka dapat dilacak dari buku Permenungan Indonesia dan Surat-Surat Politiknya. Perjuangan Kita adalah karya terbesar Syahrir, kata Salomon Tas, bersama surat-surat politiknya semasa pembuangan di Boven Digul dan Bandaneira. Manuskrip itu disebut Indonesianis Ben Anderson sebagai, “Satu-satunya usaha untuk menganalisa secara sistematis kekuatan domestik dan internasional yang memperngaruhi Indonesia dan yang memberikan perspektif yang masuk akal bagi gerakan kemerdekaan di masa depan.”
Bidang permenungan Syahrir yang tertuang dalam buku Renungan Indonesia ini sangatlah luas, mencakup berbagai dimensi kehidupan manusia modern. Oleh karena gaya penulisanya bersifat buku harian, maka permenunganya menjadi terpenggal-penggal. Tulisan ini kurang lebih bersifat kumpulan, sistematisasi dari beberapa pokok pemikiran sekian puluh potongan kecil permenungan Syahrir selama dalam masa tahanan.
a. Gagasan Revolusi Syahrir
Bagi Syahrir, negara Republik Indonesia merdeka mesti menjadi alat bagi revolusi demokratis di mana di jamin hak-hak fundamental manusia. Ia menunjuk bahwa bahaya besar bagi harkat kemanusiaan ini ada pada kolonialisme Belanda, fasisme jepang, tiranisme budaya lokal serta feodalisme. Kahin member kesaksian:”Syahrir mempunyai kecemasan terus-menerus bahwa warisan feodalisme Jawa, bisa dengan cepat membawa arah politik yang otoriter”.
Dalam Perjuangan Kita, ia tegaskan perjuangan Republik Indonesia harus difokuskan menuju revolusi kerakyatan. Negara Republik Indonesia merdeka mestilah menjadi sarana, alat bagi perjuangan demokratis. Arah revolusi kerakyatan atau demokrasi ini adalah negara dengan penjaminan hak-hak dasar manusia, yakni: kebebasan berpikir, bicara, beragama, menulis, kelayakan upah, hak memperoleh pendidikan, hak politis.
Revolusi Indonesia mesti merupakan revolusi sosial. Rakyat yang bergerak tidak hanya berhenti berjuang demi kedaulatan Indonesia, persatuan Indonesia, tetapi juga demi kemerdekaan rakyat dari segala penindasan, kemiskinan, kemalangan dan kesewenang-wenangan yang menjepit mereka. Banyak yang kurang menyadari aspek revolusi sosial ini lantaran berhenti pada obsesi revolusi nasional saja.
b. Pandangan Syahrir tentang masyarakat dan Kebudayaan Indonesia
Syahrir tidak terima kalau dikatakan bahwa bangsa Indonesia, inlander itu, malas. Baginya, pengetahuan yang kuranglah yang membuat Indonesia agak sedikit kemajuanya. Syahrir justeru mengkritik kaum cerdik pandai di Indonesia, yang menurutnya bukan intelektualis, melainkan hanya orang yang bertitel saja. Orang bertitel hanya mempelajari bidang pengetahuanya sendiri, tidak mengetahui bidang yang lainya. Ilmu pengetahuan hanya diperoleh dari bangku sekolah dan tetap menjadi pakaian luar, bukan sebagai hakekat kehidupan yang harus dijaga kelangsungan hidupnya.
Bangsa Indonesia belum maju seperti bangsa Eropa. Banyak hal terasa kaku dan primitif. Bangsa Indonesia memiliki sifat reseptif. Berbagai kebudayaan luar dengan mudah diterima, dimasukan ke dalam cara hidupnya. Kita tahu bahwa Indonesia pernah mengalami jaman kebudayaan Hindu, Tionghoa, Islam, dan Eropa.
Sifat mudah menyesuaikan diri ini, oleh Syahrir, disebut sebagai kelemahan bangsanya. Ia berkata: “Aku yakin bahwa asal kelemahan bangsa kami sebenarnya juga suatu sifat yang istimewa, yakni kesabaranya yang hampir-hampir tidak ada batasnya, kecakapanya menyesuaikan diri yang luar biasa.”(Sutan Syahrir, Renungan Indonesia, Jakarta: Pustaka Rakyat, 1947, hal.126).
Sifat ini pula yang menyebabkan penjajahan bangsa kulit putih dapat berlangsung tiga ratus tahun di Indonesia. Penjajahan ini diterima dengan lemah lembut dan tidak menyebabkan kebinasaanya, bahkan berkembang. Dalam pandangan Syahrir, kebudayaan lama yang bercokol di Indonesia perlu diganti. Tidaklah mungkin menggunakan kebudayaan abad 15 untuk hidup di abad 20. Kemajuan ke arah keinsyafan diri itulah yang disebut Syahrir dengan pergerakan rakyat.
c. Lebih Memilih Barat
Syahrir mengaku dengan jujur bahwa ia lebih memilih Barat daripada Timur. Barat bagi Syahrir merupakan penghidupan yang menggelora, penghidupan yang mendesak maju, penghidupan yang dinamis. Sedangkan Timur itu tidak fleksibel, kurang rasional, dan terlalu kosmis. Yang dikehendaki Syahrir adalah mengembangkan kehidupan ini ke taraf yang lebih tinggi, dalam, luas, melihat kehidupan ini sebagai suatu yang indah. Dan bukanya kosmis.
“Kita tidak mau diam, ialah kematian, tapi kita mau bentuk-bentuk yang lebih tinggi dari kehidupan, dari perjuangan. Kita mau meng-extensif dan meng-intensif-kan penghidupan. Kita mau membikin kehidupan, penghidupan di dunia ini, menjadi tujuan yang paling tinggi dan paling indah. Itulah yang diajarkan Barat kepada kita, dan itulah sebabnya aku suka kepada Barat, meskipun itu kasar dan kurang ajar”. (ibid. 104).
d. Politik
Syahrir lebih dikenal sebagai pemikir daripada propagandis. Hal yang lebih banyak dikeluhkanya ketika berada di tiga tempat penjaranya berkisar masalah studi: waktu terbuang karena tidak dapat studi, bertengkar dengan Hatta karena waktu studi mereka banyak dipakai untuk kunjungan, dan lain-lainya. Bagi Syahrir, studi dan pendidikan merupakan senjata yang sangat berguna. Syahrir tidak menyukai kehidupan bangsanya hanya diracuni oleh kegiatan politik berdasarkan propaganda. Propaganda, semboyan-semboyan memang diperlukan dalam perjuangan, tetapi tidak dapat dijadikan dasar hidup perjuangan. Kemenangan revolusi lebih ditentukan oleh karena rakyat yang terkader, rakyat yang mempunyai pengetahuan luas dan memadai.
“Di sini nyata sekali bahwa ideology adalah nomor satu dan ideal hanya nomor dua. Ideal ditetapkan dan dikenali bukan oleh perkataan atau nama yang mengelabui mata, yang diberikan kepadanya, akan tetapi oleh penyelidikan terhadap ideology.” (ibid.44)
Syahrir juga melihat bahwa perjuangan politik di Timur (termasuk Indonesia) lebih banyak bersifat atau didasarkan pada kesusilaan golongan orang tinggi, bukan pada perhitungan politis.
Seorang pejuang menurut Syahrir, haruslah memperhitungkan tata perkembangan dunia, masyarakat secara keseluruhan. Pejuang harus dapat melihat:dengan pihak, golongan, bangsa mana harus berkawan dan memukul lawan. Kejadian-kejadian di dunia seluruhnya perlu diperhatikan dengan seksama dan mendalam. Bahkan pejuang harus memahami bahwa seringkali terjadi suatu perubahan tataanan masyarakat, pergerakan rakyat berawal dari keberhasilan suatu karya di belakang meja. Politik, perjuangan tidak sekedar urusan otot, fisik, kasar. Pendidikanlah yang akan menghantar orang ke pembebasan dari nafsu-nafsu kebinatangan.
Membaca tulisan-tulisan Sutan Sjahrir muncul kesan yang sangat kuat dalam diri saya bahwa bagi dia politik bukanlah perkara yang sangat digandrunginya, tetapi lebih merupakan perkara yang tak terelakkan dalam hidupnya. Demikian pula politik untuk dia tidak terutama berarti merebut kekuasaan dan memanfaatkan kekuasaan itu, bukan machtsvorming & machtsaanwending menurut formula Bung Karno. Politik juga bukan persoalan mempertaruhkan modal untuk memperoleh keuntungan yang lebih besar, sebagaimana diyakini oleh pelaksana money politics dewasa ini di tanah air kita. Bahkan politik juga tidak sekedar mempertaruhkan kemungkinan untuk merebut kemungkinan yang lebih besar, sebagaimana yang kita pelajari dari Otto von Bismarck dari Prusia.
Bagi Sjahrir politik rupanya bukanlah semata-mata perkara yang pragmatis
sifatnya, yang hanya menyangkut suatu tujuan dan cara mencapai tujuan tersebut, yang dapat ditangani dengan memakai rasionalitas instrumental atau Zweckrationalitaet yang diajarkan Max Weber.
Bagi Sjahrir politik lebih dari pragmatisme simplistis, tetapi mengandung sifat eksistensial dalam wujudnya, karena melibatkan juga rasionalitas nilai-nilai atau Wertrationalitaet dalam pengertian Max Weber. Karena itulah politik lebih dari sekedar matematika tentang hubungan mekanis di antara tujuan dan cara mencapainya.
Politik lebih mirip suatu etika yang menuntut agar suatu tujuan yang dipilih harus dapat dibenarkan oleh akal sehat yang dapat diuji, dan cara ditetapkan untuk mencapainya haruslah dapat dites dengan kriteria moral(Sutan Syahrir:Etos Politik dan Jiwa Klasik.Orasi Mengenang Sutan Syahrir, 8 April 2006, oleh Ignas Kleden).
Epilog
Dari sekelumit paparan yang singkat ini, beberapa poin berikut saya garisbawahi sebagai Pelajaran/kesimpulan diskusi:
1. Dari Syahrir kita menimba nilai kemartabatan kemanusiaan yang merelatifkan nasionalisme sempit.
2. Revolusi Indonesia tidak hanya berhenti pada obsesi revolusi nasional saja, melainkan berlanjut ke revolusi sosial alias revolusi kerakyatan.
3. Dengan mengkritik kebudayaan Indonesia yang kaku, reseptif, Syahrir hendak memperjuangkan agar manusia-manusia Indonesia menjadi manusia merdeka, menjunjung tinggi kebebasan dan kemandirian.
4. Syahrir lebih menekankan pada studi, pendidikan, rakyat yang terkader, rakyat yang mempunyai pengetahuan luas dan memadai sebagai dasar hidup perjuangan dan yang menentukan kemenangan revolusi daripada propaganda-propaganda dan semboyan-semboyan.
5. Sjahrir juga mengajar kita bahwa pemimpin politik sejati bukanlah mereka yang haus akan kursi dan kekuasaan, tetapi mereka yang justru punya sikap curiga dan skeptis terhadap kekuasaan dan jabatannya.
6. Khusus untuk para politisi muda konsepsi politik Syahrir membantu mengingatkan bahwa dalam politik, perjuangan itu bukan hanya otot, fisik, kasar, melainkan dalam bahasa Ignas Kleden, ada suatu keindahan dan bukan hanya kekotoran, ada nilai luhur dan bukan hanya tipu muslihat, ada cita-cita besar yang dipertaruhkan dalam berbagai langkah kecil, dan bukan hanya kepentingan-kepentingan kecil yang diucapkan dalam kata-kata besar.[]

About eliasdabur

I am a witter, political activist, spiritualist
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s