Apa Sejatinya Misi Perguruan Tinggi?

Universitas dan Pencarian Kebenaran

Elias S. Dabur

Kehidupan politik kita di awal tahun 2011 dihentakan oleh suara keras para tokoh lintas agama yang menuding pemerintah berbohong. Para tokoh agama itu mengangkat contoh soal pertumbuhan ekonomi yang diklaim mencapai 5,8 persen, sementara kenyataannya tidak pernah dirasakan oleh rakyat kecil. Demikian pula dalam pemberantasan korupsi yang hanya ditujukan bagi lawan-lawan politik pemerintah yang berkuasa.

Tokoh-tokoh lintas agama juga menyampaikan 18 janji dan fakta kebohongan yang dilakukan oleh pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono. Para tokoh menyebutkan 9 janji dan fakta adalah kebohongan lama, dan 9 lainnya kebohongan baru.
Kebohongan lama pemerintahan SBY meliputi berbagai bidang, mulai dari laporan penurunan angka kemiskinan, swasembada pangan, ketahanan pangan dan energi, penegakan hukum, hingga penyelesaian kasus Lapindo. Kebohongan baru pemerintahan SBY adalah soal perlindungan terhadap TKI dan kebebasan pers. Rupanya sikap tokoh agama tidak berhenti di sini. Mereka lalu mencanangkan tahun 2011 sebagai tahun anti kebohongan. Sikap ini disambut pula oleh aktivis pergerakan dengan mendeklarasikan tahun 2011 sebagai tahun kebenaran.

Sikap dan gerakan ini bagaikan “suara para nabi pewarta kebenaran” ditengah kemarau panjang kebohongan dan politik pencitraan. Gerakan ini juga mengingatkan pada gerakan yang dilakukan Vaclav Havel dan Gandhi dalam merekonstruksi negaranya masing-masing.

Milestone Baru

Gerakan ini mestinya menjadi milestone baru untuk pembentukan kembali bangsa ini. Sekian lama bangsa ini mengabaikan kebenaran. Kalaupun ada, kebenaran direduksi hanya menjadi kebenaran ilmiah atau yang rasional semata. Kebenaran dimaknai sebagai betul, tidak salah, sesuai peraturan, sesuai statistik, bahkan sampai dengan derajat tertentu taat atau tunduk kepada atasan atau institusi-institusi keuangan internasional dan ideologi pengusungnya.

Kebenaran dimaknai sebatas pada tataran kognisi semata. Padahal upaya mendekati Kebenaran tidak cukup efektif dengan kognisi saja, tapi juga melalui intuisi yang jernih dan kejujuran atau lebih tepat dalam bahasa Blaise pascal: lewat la Coeur, hati. Hati di sini maksudnya bukan dalam artian kaum rasionalis yang menjadikannya lambang perasaan semata, tetapi totalitas dari intuisi, perasaan, penalaran, sikap, watak, nurani.

Kebenaran sesungguhnya lebih mendalam artinya dari sekedar benar dalam arti betul dalam pemecahan soal. Kebenaran lebih menyentuh soal moral, soal noblesse oblige, soal harkat-martabat kemanusiaan. Kebenaran itulah yang dicari para cerdik-cendekia dan dirindukan masyarakat banyak.

Universitas Pilar Penting

Dalam kerangka merekonstruksi bangsa yang menempatkan kebenaran dan keadilan sebagai titik tolak dan tujuan, salah satu pilar bangsa yang terpenting adalah pendidikan tinggi atau universitasnya. Hal ini menuntut pergeseran peran, fungsi dan misi universitas. Peran universitas tidak cukup sebagai transmisi ilmu pengetahuan, pelajaran, ide, mewariskan budaya, skill, dan teknik. Misi pendidikan tinggi tidak berhenti dengan pengembangan individu-individu semata.

Misi baru universitas harusnya berpusat pada faktor utama memperbaharui kembali vitalitasnya pada kegiatan berpikir, belajar, mengajar, pelajaran, riset dan penemuan. Fungsi universitas adalah menyediakan ruang bagi berkembangnya pemikiran, membiarkannya tumbuh, menjadi sebuah atmosfer yang meyenangkan untuk menggunakan pemikiran yang mengarahkan kita pada nilai yang tertinggi: kebenaran. Kekuatan utama universitas sesungguhnya tidak datang dari kekuatan finansial atau dukungan politik. Kekauatan orisiniilnya berada pada kemampuan anggota-anggotanya untuk berpikir secara orisinal, bebas, dan dengan energy krearif.

Membebaskan Diri Dari Penundukan

Agar perguruan tinggi kita dapat menjalankan peran hakikinya, universitas harus dapat membebaskan dirinya dari penundukan berlebihan pada ideologi, negara dan pasar. Karenanya otonomi harus diperjuangkan tidak dalam artian administrasi semata melainkan swasembada ekonomi. Saat ini universitas “dipakai” oleh negara, pasar dan sebagai alat manipulasi ideologi. Universitas dituntut efisien dalam mencapai keunggulan, uang dan pengaruh.

Tuntutan semacam ini mendorong pimpinan universitas lebih concern pada kemakmuran secara finansial, efisien dalam penggunaan material organisasi, kemantapan professional para alumninya dan tentunya kepentingan universitas sendiri, sebagai puncak dari semacam kalkulasi yang problematik. Sesuatu yang absen di sini adalah pendidikan. Padahal disitulah jantungnya universitas, yang tidak bisa diukur dari efisiensi semata.

Oleh karena itu, tugas paling mendesak yang perlu dilakukan universitas saat ini adalah memastikan bahwa  penundukan berlebihan pada institusi-institusi tadi yang terbentang dihadapan institusi akademik diubah menjadi peluang unik untuk memunculkan pertanyaan dan panggilan fundamentalnya yakni pencarian kebenaran mengarahkan keutamaan pengetahuan atas produksi dan menempatkan teknologi baru pada upaya  membantu kondisi yang manusiawi bertumbuh serta melayani kemanusiaan.

Dengan melakukan pergeseran misinya dan menolak penundukan berlebihan pada manipulasi ideologi, negara dan pasar, universitas tampil sebagai komponen penting bangsa ini yang dapat berkontribusi bagi hadirnya kehidupan politik yang berkeadaban, jujur dan berpedomankan pada keadilan dan kebenaran.

 

Penulis adalah aktivis sosial-politik, Direktur Intermestic Review. Alumnus Fakultas Ilmu Budaya, UGM. Saat ini tengah melanjutkan studi ilmu hukum pada Universitas Surya Dharma, Jakarta. Lama berkecimpung dalam organisasi kemahasiswaan/kepemudaan seperti PMKRI, GMPI.

About eliasdabur

I am a witter, political activist, spiritualist
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s