Kaum Muda Protagonis Perubahan (Pernah dimuat dalam Majalah Hidup, 1 Mei 2011)

Kaum Muda Protagonis perubahan

(In Memorium Paus Agung Johanes Paulus II)

Elias Sumardi Dabur

Terima Kasih….terima kasih.. kamu sudah datang. Aku telah mencarimu. Terima kasih. Demikianlah kata-kata terakhir Paus Yohanes Paulus II sebelum menghembuskan nafasnya yang terakhir.  Kata-kata paus ini dalam tafsiran  mereka yang mendengar ditujukan kepada orang-orang muda yang datang berkumpul di lapangan Santo Petrus pada saat Paus mengalami sakratul maut.

Perhatian Atas Kaum Muda

Ya, Paus Johannes Paulus II memang dikenal dengan cinta dan perhatiannya yang amat besar kepada orang muda. Kerasulan kaum muda adalah salah satu legasy, warisan kepemimpinannya. Bagi dia, kaum muda adalah harapan, masa depan gereja. Beliau meminta bahkan menuntut orang muda agar menjadi saksi-saksi pengharapan, nabi-nabi kehidupan, cinta dan sukacita, menjadi garam dan terang, pelaku-pelaku perubahan bukan sekedar penerima.  Beliau menginginkan wajah gereja yang dinamis, gereja yang selalu muda. Salah satu bentuk perhatiannya yang menonjol adalah diinstitusionalisasikannya Hari Pemuda Dunia (World Youth Days/WYD) pada 20 Desember 1985. Sejak saat itu, WYD selalu digelar setiap dua atau tiga tahun sekali dan terus berlangsung hingga kini.WYD 2011 akan dilaksanakan di Spanyol dan menjadikan Paus Yohanes Paulus II sebagai pelindung. Sungguh suatu penghormatan yang pantas.

Perhatian Paus Yohannes Paulus II pada hakekatnya merupakan amanat, gambaran, citra gereja sebagaimana rupa Yesus sebagai “pahlawan” sejati, murni dan rendah hati, nabi kebenaran dan cinta kasih, sahabat dan teman orang muda. Gereja senantiasa menyapa orang muda selain dalam bentuk event kolosal seperti WYD, berbagai pertemuan, pelatihan baik pada level regional, nasional dan lokal di tingkat keuskupan seringkali digelar. Tak terhitung sapaan pastoral, surat-surat apostolik. Dalam forum-forum besar gereja, seperti SAGKI, orang muda dilibatkan. Tentu, masih banyak perhatian yang lebih konkret lainnya.

Namun demikian, perhatian gereja ini bagi sebagian orang muda seolah bertepuk sebelahtangan. Masih saja ada diantara kaum muda yang bertanya, mengeluh, menuntut, menghakimi seolah-olah gereja tidak melakukan apa-apa. Ada pula di antara orang muda kita yang sibuk dengan ribut, rebut dan minta fasilitas.

Kontras Dengan Karakter Yesus dan GerejaNya

Sikap-sikap semacam ini sebetulnya sangat kontras dengan jati diri, identitas dan karakter Sang Guru, kepala dan teladan gerakan kita, yakni Yesus sendiri.Bila setia dan tekun menyelami kehidupan Yesus, maka akan tampak sekali karakter-karakter, ciri, identitas yang menonjol:inisiatif, peka, kreatif, fokus dengan misiNya. Kehidupan Yesus menunjukan diri sebagai pelaku, pemimpin, penggerak perubahan yang radikal.   Gereja sendiri sebagai cerminan wajah Kristus menampilkan karakter serupa sebagai protagonist dalam sejarah kemanusiaan dengan segala kelebihan dan kekurangan dan tentu tak lepas dari  segala kontversinya. Gereja Katolik oleh sebagian orang dituduh konservatif, namun justeru paling sering melakukan terobosan-terobosan. Singkatnya, Kehidupan Yesus dan gereja mencerminkan kehidupan yang aktif, tidak pasif, pelaku, pemimpin bukan epigon, membeo, selalu sadar akan panggilan dan misi kehidupan yang diterima dari Sang Pencipta. Bahkan, dalam situasi terjepit, kondisi yang menantang, sarana terbatas, Yesus dan gerejanya senantiasa hadir dan tampil membawa kabar sukacita. Itulah hakekat, citra diri dan identitas murid Kristus yang mestinya menjadi sumber inspirasi bagi kita semua.

Teladan Inspirasi

Dalam kehidupan menegara dan menggereja, teladan baik dan inspiratif ditunjukan oleh tokoh baik awam maupun gembala kita dalam panggilan sebagai 100 persen Indonesia, seratus persen katolik. Bapak politik Katolik Indonesia, I.J. Kasimo dan kawan-kawannya aktif terlibat dalam perkumpulan Trikoro Dharmo, Budi Utomo lalu mendirikan partai katolik pada usia muda belia. Pendiri-pendiri PMKRI ditengah kesibukan kuliah dan berjuang di medan laga mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang baru diproklamasikan, masih sempat memikirkan sebuah wadah mahasiswa yang menampilkan kerohanian katolik sebagai pedoman. Mereka semua terinspirasi oleh ajaran gereja melibatkan diri dalam kehidupan sosial kemasyarakatan, bergerak dengan penuh semangat, mengambil inisiatif  meski situasi dan kondisi problematis menghadang. Masih banyak contoh lain baik yang dikenal maupun yang tidak, misalnya  Frans Seda, Harry Tjan Silalahi, Cosmas Batubara, Yusuf Wanandi, Sofyan Wanandi, Chris Siner Key Timu, Ben Mboi yang pada masa muda mereka sangat aktif, bahkan hingga kini di usia menjelang senja.

Menghidupi Karakter Kristus

Karakter-karakter seperti ini mestinya menjadi spirit, nilai yang harus dihidupi oleh orang muda Katolik. Kalau selama ini, masih bertanya, mengeluh, menuntut, menghakimi gereja, sekarang dan ke depan harus bertanya apa yang dapat saya lakukan sebagai bagian dari gereja? Apa yang dapat saya lakukan untuk gereja, bukan bertanya apa yang telah gereja berikan untuk saya, apalagi sampai menghabiskan energi untuk ribut-rebut dan minta fasilitas.

Apalagi, tantangan Gereja masa kini sangat besar. Boleh dikatakan gereja sedang menderita. Paus Yohenes Paulus II dalam Tertio Millenio Adveniente (1994) menyebut ada gejala keterlepasan manusia dari yang Ilahi atau religious indifference, sehingga seakan-akan manusia hidup tanpa Allah. Gejala yang dilihat Paus tampak dalam lemahnya rasa kepekaan terhadap daya transenden dalam hidup manusia, ketidakpastian dan ketidakjelasan paham dan kesadaran etis, juga lemahnya rasa penghargaan terhadap nilai kehidupan dan keluarga. Paus Yohanes Paulus II juga berulangkali menyatakan kecemasannya akan wajah dunia yang semakin meninggalkan Tuhan. Dikatakannya, masyarakat tanpa Tuhan menjadi nyata saat hidup hanya ditentukan oleh pertimbangan politik dan ekonomi, dengan mengabaikan aspek spiritual dan kekayaan kerohanian.

Ringkasnya, Kehidupan dunia sepertinya berbalik, melawan dengan apa yang senantiasa diwartakan, diajarkan dan dilakukan gereja.Gereja masa ini dihadapkan pada arus tantangan-tantangan zaman yang berat seperti berkembangnya paham nihilisme, relativisme, kebebasan tanpa batas, terkuburnya moralitas dalam kehidupan politik, pengabaian terhadap harkat-martabat kemanusiaan, pelanggaran HAM, kemiskinan, ketidakadilan, KKN, masih berkembangnya intoleransi dalam kehidupan beragama dan aneka tantangan kebangsaan dan kemanusiaan lainnya.

Di Utus Menjadi Saksi dan Penggerak Perubahan

Ditengah situasi yang menantang ini, gereja sesuai dengan panggilan dan misi yang diembannya tidak mungkin berdiam diri, dan berpangku tangan. Gereja bersama saudara-saudari lain pasti mengambil bagian, berprakarsa memperbaharui tata dunia agar berkembang semakin adil dan manusiawi.

Tantangan-tantangan ini mestinya menjadi bahan permenungan, analisis orang muda sehingga dapat merumuskan peran baik  secara perorangan sesuai kapasitas, talenta, karisma masing-masing maupun secara kelompok ikut mentransformasi tata dunia.

Agar bisa berperan demikian, saat ini ada kebutuhan mendesak bagi kita orang-orang muda untuk menemukan kembali Kristus, memandang, mengenal Dia dan belajar lebih banyak lagi padaNya. Paus Yohanes Paulus II sangat tepat ketika dalam forum pemuda internasional, di Roma (2004) menegaskan bahwa kita tidak diselamatkan oleh ideologi, oleh formula. Kita diselamatkan oleh pribadi yakni Yesus. Pengenalan, pemahaman dan penghayatan yang radikal, atau revolusi pemahaman, pengenalan akan Yesus yang merupakan ciri khas utama dan pokok, atau inti dari iman kita  sangat dibutuhkan oleh orang muda saat ini.

Jati diri, identitas, dan karakter Kristus sebagai protagonist perubahan, pelaku-penggerak kebenaran dan keadilan mesti terinjeksi dalam sanubari orang muda Katolik, sehingga orang-orang muda tidak hanya mengeluh dan menuntut, melainkan tampil sebagai pelaku-pelaku (protagonist) perubahan dan kemajuan bangsa. Hanya dengan demikian, kehadiran gereja, harapan gereja kepada orang muda sebagai pelaku-pelaku pembebasan, penyebar firman, pembawa kegembiraan, sukacita, iman dan cinta, penggerak keadilan dan perdamaian dan saksi-saksi pengharapan benar-benar menjadi nyata. Peran ini menanti dan menuntut kita orang-orang muda Katolik.

About eliasdabur

I am a witter, political activist, spiritualist
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s