Mendemonstrasikan Kejujuran (Pernah dimuat di website www.wartasemesta.com)

MENDEMONSTRASIKAN KEJUJURAN

ELIAS SUMARDI DABUR

 

Kejujuran pemimpin pada masa kini lebih dihargai daripada era-era sebelumnya. Pada masa-masa yang lalu, orang berasumsi bahwa seorang pemimpin dengan sendirinya memiliki kejujuran. Asumsi tersebut bergeser setelah munculnya banyak skandal dan krisis yang disebabkan oleh perilaku pemimpin yang tidak mendemostrasikan kejujuran.

Krisis sosial, ekonomi, dan politik yang sekarang ini terjadi di beberapa negara, termasuk yang pernah terjadi di negara kita, sebetulnya disebabkan oleh perilaku politisi yang tidak jujur. Selain faktor penting lain seperti Kebijakan politik yang tidak memihak pada keadilan dan perdamaian. Sehingga tidak mengherankan kalau muncul penilaian bahwa sumber kekacauan itu ada di pusat pemerintahan dan parlemen. Partai-partai politik pun di pandang sama saja. Karena hampir semuanya hanya sibuk bergumul dengan kepentingannya masing-masing.

Kejujuran Diinginkan

Pentingnya faktor kejujuran ini, tidak hanya berlaku dalam bidang politik. Dalam bidang bisnis pun kejujuran mendapat tempat utama. Henry dan Richard Blackaby dalam sebuah survey informal untuk buku mereka “Spiritual Leadership” menanyakan kepada CEO dari berbagai perusahaan besar apa yang mereka cari dalam calon pegawai mereka. Hampir semuanya menyebut kejujuran sebagai kualifikasi pertama. Penelitian ekstensif yang dilakukan Prof Kouzner dan Prof. Posner tentang pemimpin yang disukai masyarakat menunjukan hasil: Kejujuran (87%), memiliki pandangan ke depan (71%), inspiratif (68%), kompetensi (58%), berpikir adil (49%), selalu siap membantu bila diperlukan (46%), berpikiran luas (41%), cerdas (38%), terus terang (34%), dan berani (33%). Selama tiga tahun berturut-turut- tahun 1996, 1997, 1998-tampak bahwa kejujuran mendapat tempat terhormat bagi seorang pemimpin. Sementara visi, inspiratif, kompetensi, bahkan cerdas harus rela menempati posisi di belakang kejujuran.

Kenyataan bahwa kejujuran diinginkan tentunya tidak perlu mengherankan. Kepemimpinan itu pada dasarnya didasari oleh kepercayaan. Karena orang banyak memilih untuk mengikuti pemimpin yang mereka percayai, rasa kepercayaan mereka tentu punya dasar. Dasar itu adalah kejujuran.

Kejujuran: Teguh Watak dan Sehat Dalam Prinsip

Apa itu kejujuran? Kejujuran merupakan perpaduan antara keteguhan watak, sehat dalam prinsip-prinsip moral, tabiat suka akan kebenaran, tulus hati dan perasaan halus mengenai etika keadilan dan kebenaran( Dr. Kartini Kartono,”Pemimpin dan Kepemimpinan,” Jakarta, 1983). Meneropong perilaku elit pemimpin kita dengan optik pandangan tersebut, maka dapat dikatakan sangat jauh dari realitas.

Para politisi kita terlalu sering mengambil sikap double standard, mudah berubah sikap karena perubahan kepentingan taktis, opini, dan respons pencitraan situasional. Tidak ada pijakan yang jelas. Pilihan sikap tidak diletakkan pada prinsip etika atau moral, tetapi pada kepentingan. Tampaknya bagi para politisi kita tidak ada ukuran moral yang jelas, karena yang jelas adalah kepentingan. Maka, kebenaran adalah soal kepentingan, bukan soal nilai atau fakta.

Sikap oportunistik semacam ini mengandung bahaya karena seorang oportunis cenderung hanya berkepentingan pada konstelasi kekuasaan. Karena itu, tidak ada kejujuran dalam dirinya. Hans Kung (ahli etika global) mengatakan bahwa bila dia (seorang oportunis) memiliki kekuasaan, dia cenderung menjadi otoritarian. Hal ini tampak dari sikap  keras kepala dan reaksioner yang sering ditampilkan elit pemimpin. Kritikan dilawan dengan sengit. Tidak jarang mengalihkan persoalan dengan memunculkan isu-isu baru atau menampilkan data yang usang. Sehingga banyak persoalan yang tidak pernah jelas penyelesaiannya.

Mantan Presiden RI keempat, KH Abdurahman Wahid berpendapat bahwa inti dari demokrasi adalah kejujuran. Pemimpin yang demokratis berarti pemimpin yang jujur pada rakyatnya atas berbagai masalah yang menimpa bangsa ini. Pemimpin tidak boleh memanipulasi data hanya demi citra pribadi. Pemimpin harus berani berkata jujur walaupun sangat pahit. Jika pemimpin mau jujur maka rakyat pasti mau mengerti dengan keadaan pemimpinnya.

Seringnya politisi menampilkan citra demikian barangkali yang menginspirasi munculnya anekdot bahwa salah satu kelompok orang yang tidak bisa dipercaya adalah politisi. Anekdot semacam ini tentu menyatakan suatu persepsi serta gambaran kebanyakan orang mengenai sikap serta perilaku para politisi. Berpolitik seakan-akan sebuah permainan peran, dalam suatu panggung teater, sebagaimana diungkapkan oleh Vaclav Havel, yang dikenal sebagai salah seorang politikus yang menjunjung tinggi moralitas. Bila praktek culas seperti ini terus dilakukan maka tidak heran kalau apa pun bentuk wacana dan keputusan pemerintah selalu mendapat pertanyaan, kritikan tajam bahkan perlawanan dari masyarakat.

Menantang  

Saat ini mendesak dan menantang bagi para politisi menampilkan kejujuran. Bukan masanya beretorika, berkelit dan bersikap ambivalen. Seperti diingatkan Richard T. Chase bahwa, “if a leader demonstrates competency, genuine concern for others, and admirable character, people will follow.” Jika pemimpin mau menunjukan kompetensi, sungguh-sungguh peduli kepada rakyatnya dan menampilkan karakter yang mengagumkan, niscaya rakyat akan menaruh kepercayaan dan siap berjibaku bersama pemimpinnya. Tanpa kejujuran, kredibilitas pemimpin mulai diragukan dan pada waktunya ditinggalkan rakyat. Kejujuran pemimpin merupakan kunci keberhasilan bangsa mencapai cita-citanya. Kita semua tentunya menghendaki bangsa kita tercinta ini tidak selamanya menjadi “a floating nation”.

About eliasdabur

I am a witter, political activist, spiritualist
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s