Pemimpin yang Berkorban

MEMBUTUHKAN PEMIMPIN YANG BERKORBAN

 

Elias Sumardi Dabur

Pengorbanan pada dasarnya adalah suatu yang konstan dalam kepemimpinan. Ia menjadi ciri yang melengkapi kepemimpinan. Pemimpin-pemimpin yang mengorbankan jiwa, raga, harta dan tahta umumnya adalah orang-orang yang memiliki nilai, visi, misi yang jelas dan kuat. Dengan visi dan misi yang jelas, mereka mengerahkan seluruh potensi, segenap sumber daya dan menginspirasi banyak orang berjuang bersama mencapai visi-misi tersebut.

Pemimpin yang berkorban, selain tergerak oleh visi, misinya, mereka juga adalah orang-orang memiliki empati dan berorientasi melayani orang lain lebih besar. Peter Block (Penulis Buku Stewardship) mengatakan pelayanan timbul jika seseorang berkomitmen pada sesuatu di luar dirinya. Block telah menemukan bahwa rasa pelayanan adalah unsur utama dalam proses kepemimpinan.

Miskin Visi   

Demikianlah, Indonesia berhasil menjadi sebuah bangsa yang merdeka dan berdaulat karena pemimpin-pemimpinnya, seperti Soekarno, Hatta, Syahrir, Tan Malaka dan patriot bangsa lainnya memiliki visi dan mimpi yang jelas. Dan untuk itu, Mereka berjibaku mencapainya, sehingga menggerakan rakyat berjuang bersama mereka. Panglima Besar Sudirman mendapat dukungan dan kesetiaan dari prajuritnya dan rakyat karena dia menunjukan pengorbanan yang sangat besar. Dalam keadaan sakit, beliau memimpin para prajurit berjuang mempertahankan kemerdekaan dengan kebersamaan yang tinggi antara tentara dengan rakyat. Orang-orang seperti Marthin Luther King, Mahatma Gandhi, Bunda Theresa mencapai suatu yang luar biasa karena  pengorbanan diri mereka. Mereka mendevosikan kata-kata dan tindakan mereka.

Kualitas kepemimpinan semacam ini sangat langka dijumpai dalam diri pemimpin-pemimpin bangsa hari ini dari tingkat pusat sampai daerah. Mereka lebih banyak meributkan hal yang remeh-temeh daripada hal yang mendasar dan strategis menyangkut nasib rakyat kebanyakan dan keberlangsungan bangsa dalam jangka panjang.

Wacana politik yang mengemuka lebih didominasi oleh hal-hal yang menyangkut kepentingan partai, dominasi kekuasaan, kelanggengan kekuasaan, produk keputusan yang tidak peka dan peduli dengan nasib sebagian besar rakyat yang terlilit kemiskinan, misalnya permintaan fasilitas, kenaikan gaji, membangun gedung baru, minta naik uang reses, dan studi banding. Belum lagi sederet tindakan dan perilaku tidak terpuji antara lain, misalnya korupsi, kolusi dan nepotisme.

Kita mungkin tidak akan pernah mendengar misalnya perdebatan karena perbedaan pandangan mengenai kebijakan ekonomi-politik, arah dan orientasi berbangsa di antara pimpinan nasional: Yudhoyono, Bakrie, Hatta Rajasa, Megawati, dan pemimpin-pemimpin politik lainnya.

Sejauh ini, kita masih terpesona dengan keanggunan, keelokan, kejeniusan pemimpin-pemimpin bangsa kita di masa lalu. Mereka berbicara dan berdebat untuk hal-hal yang sifatnya prinsip, apakah itu mengenai dasar negara, cita negara, bentuk negara, dan platform dasar bangsa dan negara.

Dalam praktik politik pun, mereka tidak segan-segan berbeda dan memilih jalan berpisah selama itu menyangkut suatu yang prinsipiil. Mereka juga tidak pelit memberi dukungan sepanjang itu menyangkut kepentingan negara. Hubungan pribadi diantara pemimpin terjalin baik meski ada perbedaan pandangan dan terjadi perdebatan yang sengit di parlemen.

Pemimpin-pemimpin bangsa sekarang lebih banyak mengumbar kemarahan di depan publik, lebih kelihatan garang bicara melalui media, menyerang mitra atau kolega di depan umum, tapi tidak gigih dan kukuh pendapatnya ketika berbicara menyangkut nasib rakyat yang diperjuangkannya melalui undang-undang atau kebijakan publik. Dengan kata lain, Perjuangan politik saat ini lebih pada kepentingan-kepentingan kecil yang diucapkan dengan kata-kata besar. Tidak ada terobosan yang luar biasa yang dilakukan.

Berkorban: Melayani

Kepemimpinan mensyaratkan kepelayanan. Pelayanan membutuhkan pengorbanan. Pengorbanan berarti bahwa seorang pemimpin harus bebas dari hierarki keinginan yang selalu menempatkan kepedulian pada diri sendiri lebih besar.

Berkorban juga berarti seorang pemimpin rela kehilangan kenyamanannya. Itu berarti ia harus keluar dari comfort zones-nya. Seperti garam yang mengasinkan hidangan, seorang pemimpin pelayan memberikan kehidupannya kepada kelompok dan anggotanya serta menempatkan kepentingan mereka terlebih dahulu di atas kepentingan personal. Pemimpin-pelayan mengorbankan hak-hak pribadinya untuk menemukan keagungan dalam melayani orang lain. Kehidupan pemimpin pelayan penuh dengan pengorbanan. Itulah yang membedakan seorang pemimpin sejati dengan pemimpin yang biasa saja.

Pengorbanan Sebagai Elemen kunci

Di tengah kemarau panjang krisis besar yang masih melilit tubuh bangsa ini, amat diperlukan tampilnya pemimpin-pemimpin yang mau berkorban untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan yang mampu menciptakan tata dunia yang berkeadaban dan berkeadilan.

Pemimpin-pemimpin macam ini hanya mungkin terjadi bila mereka memiliki visi, misi yang jelas dan kuat serta berorientasi pelayanan pada kepentingan yang lebih besar di atas kepentingan partikular.

Pemimpin menghidupkan visi dengan membuat semua tindakan dan perilaku mereka konsisten dengannya dan dengan menciptakan rasa penting dan mendesak, serta gairah untuk pencapaiannya. Jika pemimpin hanya mengutamakan kekuasaan dan dengan kekuasaan tersebut menghimpun kebesaran pribadi, maka sudah sepantasnya untuk diadili.

About eliasdabur

I am a witter, political activist, spiritualist
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s