Kepemimpinan Tanpa Roh

KEPEMIMPINAN TANPA ROH

Elias Sumardi Dabur

Menjelang 66 tahun kemerdekaannya, Indonesia mengalami krisis pada berbagai aras penting kehidupan berbangsa-bernegara, antara lain, krisis kewibawaan kepala pemerintahan, krisis kewibawaan kepala negara, krisis kepercayaan terhadap parpol, krisis kepercayaan kepada parlemen, krisis efektifitas hukum, krisis kedaulatan sumber daya alam, krisis kedaulatan pangan, krisis pendidikan, krisis integrasi nasional (bdk.Poin 7 pernyataan 45 tokoh nasional yang berkumpul di Hotel Four Seassons, 8/8/2011). Berbagai krisis ini, kalau dicermati penyebabnya adalah bersumber pada rapuhnya karakter kepemimpinan.

Inti atau karakter (roh) kepemimpinan adalah: kredibilitas, kejujuran, integritas, kebijaksanaan, dan pengorbanan. Karakter-karakter inilah yang menjadi pilar dan fondasi-fondasi utama kepemimpinan sekaligus dasar di mana hubungan antara pemimpin dan pengikutnya (baca: rakyat) dibangun. Kalau diumpamakan seperti manusia yang terdiri atas badan dan jiwa, posisi atau jabatan formal seorang pemimpin adalah badan, sedangkan roh kepemimpinan adalah jiwa. Posisi seorang pemimpin tidak akan memiliki arti dan makna apa-apa tanpa roh kepemimpinan. Kenneth Blanchard mengatakan bahwa kepemimpinan dimulai dari dalam hati dan keluar untuk melayani mereka yang dipimpinnya. Perubahan karakter adalah segala-galanya bagi seorang pemimpin sejati. Tanpa perubahan dari dalam, tanpa kedamaian diri, tanpa kerendahan hati, tanpa adanya integritas yang kokoh, daya tahan menghadapi kesulitan dan tantangan, dan visi serta misi yang jelas, seseorang tidak akan pernah menjadi pemimpin sejati.

Ciri Kepemimpinan

Apa yang terjadi sekarang ini, banyak pemimpin bukannya memilih menjadi pemimpin sejati, tetapi malahan, dalam bahasa ahli kepemimpinan Robert Greenleaf, “Terlalu banyak yang memilih untuk menjadi kritikus dan ahli.” Padahal, Kalau bicara mengenai pemimpin dan kepemimpinan, faktor kompetensi dan kecakapan hanyalah sebagian dari kepemimpinan. Kepemimpinan secara utuh dilengkapi pula dengan karakter dan tujuan kepemimpinan. Barna, seorang ahli kepemimpinan merumuskan secara lengkap perihal kepemimpinan. Menurutnya, ciri kepemimpinan mencakup tiga C, yakni (call/panggilan, character/karakter, dan competencies/kemampuan).

Jika ada yang perlu ditambahkan dari rumusan ini, mungkin itu aspek akibatnya, atau hasil dari kepemimpinan. Sebab, Kepemimpinan itu pada akhirnya diukur bukannya menurut keterampilan sang pemimpin, melainkan dari hasil-hasil yang dicapai sang pemimpin. Sebagaimana dipaparkan ahli manajemen, Peter Drucker bahwa, ”Kepopuleran bukanlah kepemimpinan. Tetapi hasil yang dicapai itulah kepemimpinan.” Semua kemampuan fungsional tidak ada gunanya sama sekali jika rakyat, bangsa, dan negara tidak terangkat harkat-martabat dan kedaulatannya. Kalau dikembalikan kepada tujuan kemerdekaan, bukankah pemulihan harkat-martabat dan kemandirian bangsa menjadi tujuan utama buat apa negara ini dibangun?

Kepemimpinan Berkarakter

Ditengah kegalauan kita mengenai keadaan berbangsa dan bernegara dan maraknya wacana kepemimpinan serta nama-nama kandidat yang diusung menjadi presiden dalam pemilihan umum 2014, sudah seharusnya berbagai komponen bangsa bersepakat untuk meletakan karakter pemimpin sebagai salah satu kriteria paling penting dan utama dalam menentukan calon pemimpin bangsa ke depan. Selain itu, agenda mendesak yang tidak boleh lagi diabaikan kepemimpinan nasional selanjutnya adalah pengembangan karakter bangsa (character building), sebagaimana amanat yang dikemukakan bapa bangsa kita, Bung Karno.

Kazuo Inamori, pendeta, pe­bis­­nis, dan salah satu guru ma­na­jemen terkemuka abad ini menunjukkan, kunci ke­ber­hasilan hidup yang se­sung­guhnya terletak pada attitude, ka­­rakter atau watak. Setelah wa­­tak, baru keberanian (courage) dan kemampuan (ability).  Ke­pin­­­­taran, kompetensi, in­te­li­gen­­­­sia, bahkan kerja ke­­ras sekalipun tak akan pernah mem­buat sebuah bangsa menjadi kuat dan disegani tanpa pe­mim­pin dan rakyat yang berkarakter.

Ke­simpulan ini didasarkan pa­­da hasil studi maupun penga­la­man empirik bangsa Jepang yang mampu melahirkan pe­mim­pin-pemimpin berkarakter ku­at. Sebut saja Saigo Takamori, sa­lah satu negarawan terkemuka Je­pang pada abad ke-19. Menurut Ta­kamori, pemimpin yang kuat tak bisa hanya bermodal ke­pin­ta­ran, karena jika itu yang men­jadi dasar kepemimpinan, maka yang didapat hanyalah ‘ke­ku­a­sa­an yang beralaskan uang’. Namun, jika yang dicari adalah pe­mimpin yang berwatak (noble cha­racter), maka yang akan didapat lebih dari sekadar uang, yak­ni martabat.

Kini, saatnya bagi rakyat Indonesia memilih dan menentukan pemimpin, bukan karena faktor kekayaan, kepopuleran, dan kecerdasannya semata, melainkan unsur yang lebih mendasar dari semua itu, adalah pada karakter sang pemimpin. Tanpa ka­rakter kepemimpinan, politik negara hanyalah ek­s­presi dari relasi kuasa elite, ke­kuasaan hanya menjadi parodi yan­g menyedihkan, dan negara ta­k lebih dari altar judi para biro­krat pencuri dan politisi pem­buru rente (rent seeking and power seeking politician) untuk me­lanca­r­kan aksinya.

About eliasdabur

I am a witter, political activist, spiritualist
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s